Tenggarong, Kutai Kartanegara — Berdiri megah di tepi Sungai Mahakam, Museum Mulawarman menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kesultanan Kutai Kartanegara. Tidak hanya sebagai pusat pelestarian sejarah, museum ini kini juga menghadirkan sentuhan baru yang memikat: area akuarium yang menyatu dengan narasi budaya.
Museum Mulawarman dibangun di atas bekas Istana Kesultanan Kutai Kartanegara dan diresmikan pada tahun 1971. Di dalamnya tersimpan lebih dari 5.000 koleksi bersejarah yang mencerminkan kejayaan kerajaan tertua di Indonesia. Mulai dari singgasana Sultan, keris pusaka, hingga koleksi tekstil tenun khas Kutai yang memukau.
Namun, salah satu daya tarik yang belakangan mencuri perhatian adalah ruang akuarium di dalam area museum. Bukan sekadar pajangan ikan, akuarium ini dirancang sebagai bagian dari narasi etnografi dan lingkungan Kalimantan Timur.
“Akuarium ini jadi semacam jendela ekosistem Mahakam, dan anak-anak suka banget. Kita bisa belajar tentang budaya sekaligus lingkungan,” ujar salah satu pengunjung asal Samarinda.
Inovasi ini membuat Museum Mulawarman tak lagi hanya menjadi destinasi sejarah, tetapi juga tempat edukasi interaktif yang ramah keluarga. Selama musim liburan, museum mencatat lonjakan pengunjung hingga lebih dari 6.000 orang, membuktikan daya tariknya sebagai ruang publik yang hidup.
Dengan kombinasi antara kejayaan masa lalu dan sentuhan modern yang mendidik, Museum Mulawarman menjadi simbol bahwa sejarah bisa dirayakan dengan cara yang menyenangkan dan relevan bagi semua generasi. (Adv/Dispar Kukar)



























