Balikpapan, 24 Mei 2026 — Temuan mangrove langka Camptostemon philippinensis di Teluk Balikpapan kembali menegaskan pentingnya pesisir Kalimantan Timur sebagai penyangga ekologi Ibu Kota Nusantara (IKN). Tim peneliti BRIN mencatat sedikitnya 527 individu spesies itu tumbuh di Pantai Lango, Kabupaten Penajam Paser Utara, setelah menelusuri sekitar 200 kilometer kawasan mangrove dari Sepaku hingga pesisir Balikpapan.
BRIN temukan 527 individu di Pantai Lango
Penelitian itu berawal dari penelusuran vegetasi pesisir dengan perahu untuk mendata jenis mangrove yang tersisa di kawasan Teluk Balikpapan. Dari survei awal, tim menemukan satu pohon di Pulau Kowangan, lalu penelusuran lanjutan menemukan populasi yang jauh lebih besar di Pantai Lango.
Hasil pendataan menunjukkan populasi yang ditemukan masih didominasi semaian atau anakan muda. Dari total 527 individu, 452 di antaranya adalah anakan, disusul 49 pohon dewasa dan 26 pancang.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Istiana Prihatini, mengatakan temuan itu menunjukkan Teluk Balikpapan menyimpan kekayaan hayati yang penting. “Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi,” ujarnya. Status spesies ini juga tercatat dalam perhatian konservasi global di daftar merah IUCN.
Habitat sempit membuat risiko kepunahan lokal meningkat
Meski populasinya masih ditemukan dalam jumlah cukup banyak, para peneliti menilai habitat spesies ini sangat terbatas. Kerusakan sedikit saja di area pesisir yang sempit dapat memperbesar risiko kepunahan lokal.
Istiana juga menyinggung ancaman dari alih fungsi lahan mangrove, pencemaran, pembalakan liar, hingga tekanan pembangunan di sekitar kawasan penyangga IKN. “Habitat C. philippinensis sangat terbatas. Jika terjadi kerusakan habitat, risiko kepunahan lokal spesies ini akan semakin besar,” kata dia.
Selain itu, tim menemukan indikasi hubungan ekologis dengan bekantan (Nasalis larvatus) setelah melihat bekas gigitan pada daun dan laporan warga pesisir soal keberadaan kelompok primata itu di sekitar mangrove.
Konservasi pesisir ikut menentukan masa depan kawasan penyangga IKN
Bagi Kalimantan Timur, temuan ini bukan sekadar kabar flora langka. Ia menjadi pengingat bahwa perlindungan pesisir, restorasi mangrove rusak, dan pengelolaan ruang di sekitar IKN harus berjalan beriringan agar fungsi ekologis kawasan tidak makin tergerus.
BRIN merekomendasikan perlindungan habitat alami, penyimpanan material genetik, serta pengembangan konservasi ex-situ melalui perbanyakan tanaman. Upaya itu dinilai penting untuk menjaga ketahanan biodiversitas jangka panjang di wilayah penyangga.
Untuk konteks liputan kawasan, pembaca juga bisa mengikuti berita IKN Terkini, berita Balikpapan, dan berita PPU di Kata IKN.




























