Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Jumat (17/4/2026) membuka peluang lebih luas bagi sivitas akademika untuk terlibat langsung dalam pembangunan Nusantara setelah meneken nota kesepahaman dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) di kantor Otorita IKN. Kesepakatan ini menempatkan kampus sebagai mitra strategis, bukan hanya lewat riset dan pendidikan, tetapi juga melalui pengabdian masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, dan dukungan lahirnya ekosistem ilmu pengetahuan di ibu kota baru.
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menegaskan bahwa keterlibatan kampus penting agar pembangunan kota tidak berhenti pada beton dan infrastruktur. Dalam pernyataannya, Basuki menyebut, “Saya mengucapkan terima kasih atas komitmen Unhas terhadap pembangunan IKN. Ke depan, kami mendorong keterlibatan mahasiswa untuk turut berkontribusi secara langsung. Kami juga siap mendukung apabila Unhas berencana mengembangkan kampus di IKN, termasuk dalam penyediaan lahan.”
Pernyataan itu sejalan dengan pesan yang disampaikan ANTARA pada Sabtu (18/4/2026): “Keterlibatan langsung sivitas akademika penting dalam proses pembangunan.” Artinya, OIKN bukan sekadar membuka pintu untuk kerja sama formal, melainkan mengajak perguruan tinggi menjadi bagian dari desain masa depan Nusantara yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis pengetahuan.
Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. juga menegaskan bahwa kerja sama dengan OIKN bukan hal yang datang tiba-tiba. “Sejak 2022, Unhas telah mendukung pembangunan IKN. InshaAllah dengan keberadaan Unhas banyak yang bisa kita lakukan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kampus menyiapkan program afirmasi bagi daerah penyangga dan ruang pembelajaran yang bisa menjadikan Nusantara sebagai tempat bereksperimen bagi generasi muda.
Di dokumen resmi OIKN, ruang lingkup kerja sama meliputi pengembangan sumber daya manusia, pendidikan dan pelatihan, kajian ilmiah, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga program lain yang disepakati kedua pihak. Arah ini penting karena IKN sejak awal diposisikan sebagai kota yang cerdas, hijau, dan adaptif. Tanpa dukungan kampus, ambisi itu berisiko hanya jadi slogan. Dengan dukungan kampus, IKN bisa punya basis riset untuk transportasi, tata ruang, layanan publik, mitigasi lingkungan, hingga desain kota yang ramah penghuni.
Kolaborasi OIKN dan Unhas juga mempertegas tren baru pembangunan Nusantara: kampus tidak lagi ditempatkan sebagai penonton. Setelah OIKN sebelumnya menggandeng universitas lain seperti Gunadarma, model kerja sama ini menunjukkan bahwa ekosistem pendidikan sedang disiapkan lebih awal agar Nusantara punya talenta sendiri. Langkah tersebut relevan untuk kata kunci besar yang kini melekat pada IKN: kota inovatif, kota berkelanjutan, dan pusat pertumbuhan manusia, bukan sekadar pusat pemerintahan.
Di sisi lain, sinyal dukungan dari Unhas memberi efek berantai bagi kawasan penyangga. Jalur afirmasi pendidikan, hutan pendidikan dan riset, serta kemungkinan sentra bisnis yang disebut OIKN bisa membuka peluang lebih banyak bagi mahasiswa, peneliti, dan pelaku usaha lokal. Kalau konsisten dijalankan, kerja sama ini bukan hanya mendekatkan kampus dengan proyek ibu kota, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi dan sosial ke masyarakat sekitar IKN.
Baca juga: Unhas dan OIKN Kian Dekat, Kampus Baru di IKN Makin Nyata
Baca juga: OIKN dan Unhas Perkuat Riset SDM untuk Kota Nusantara
Baca juga: Gunadarma Jadi Kampus Pertama di IKN, Kuliah Perdana September
Dengan tiga lapis dukungan—dari OIKN, Unhas, dan kerja sama akademik yang lebih luas—Nusantara tampak makin serius bergerak menuju kota masa depan. Jika janji kerja sama ini berlanjut ke implementasi, maka IKN akan punya fondasi yang lebih kuat: sumber daya manusia, riset, dan keberanian untuk membangun kota yang benar-benar hidup.




















