Pada Jumat, 17 April 2026, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) dan Universitas Hasanuddin (Unhas) menandatangani nota kesepahaman di kantor OIKN, Nusantara, untuk memperkuat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kesepakatan ini bukan sekadar seremoni kampus dan lembaga pemerintah, melainkan langkah strategis untuk memastikan pembangunan IKN ditopang oleh sumber daya manusia, riset terapan, dan jejaring akademik yang kuat. Kepala OIKN Basuki Hadimuljono dan Rektor Unhas Jamaluddin Jompa menjadi dua tokoh utama dalam penandatanganan itu, sementara tindak lanjutnya diarahkan pada jalur afirmasi pendidikan, program riset, dan pengembangan kampus di kawasan Nusantara.
Pentingnya kerja sama ini terletak pada kebutuhan IKN yang jauh melampaui pembangunan fisik. Kota baru di Kalimantan Timur itu membutuhkan talenta yang siap bekerja, meneliti, dan mengelola ekosistem kota cerdas. Karena itu, kolaborasi dengan Unhas menjadi relevan: kampus bisa menyediakan riset, kajian kebijakan, dan kaderisasi SDM, sedangkan OIKN membuka ruang implementasi di lapangan. Dalam laporan RRI, Basuki menegaskan, “Saya mengucapkan terima kasih atas komitmen Unhas terhadap pembangunan IKN. Ke depan, kami mendorong keterlibatan mahasiswa untuk turut berkontribusi secara langsung. Kami juga siap mendukung apabila Unhas berencana mengembangkan kampus di IKN, termasuk dalam penyediaan lahan,”. Di kesempatan yang sama, Jamaluddin mengatakan, “Sejak 2022, Unhas telah mendukung pembangunan IKN. Dengan keberadaan Unhas, banyak yang bisa kita lakukan, termasuk menyiapkan program afirmasi bagi daerah penyangga dan program studi yang relevan dengan kebutuhan IKN,”.
Nada kolaborasi ini sejalan dengan arah resmi OIKN yang menargetkan kota berkelanjutan, hijau, dan rendah emisi. Di laman resminya, Otorita IKN menuliskan prinsip-prinsip utama seperti lebih dari 75% kawasan hijau di kawasan pemerintahan, pemenuhan kebutuhan energi dari sumber terbarukan, dan target net zero emissions pada 2045. Artinya, kerja sama dengan perguruan tinggi tidak bisa berhenti pada penandatanganan dokumen. Ia harus diterjemahkan menjadi kurikulum, laboratorium lapangan, pengabdian masyarakat, dan proyek riset yang menjawab kebutuhan kota masa depan.
Lebih jauh, sinergi kampus dan otorita seperti ini bisa mempercepat terbentuknya rantai pasok pengetahuan di Nusantara. Mahasiswa dapat terlibat dalam survei lingkungan, pemetaan sosial, desain mobilitas aktif, sampai inovasi layanan publik berbasis data. Dosen dan peneliti mendapat ruang uji coba yang nyata, sementara pemerintah memperoleh masukan yang lebih tajam sebelum mengambil keputusan. Dengan model seperti itu, IKN berpotensi menjadi tempat lahirnya kebijakan yang tidak hanya bagus di atas kertas, tetapi juga terukur dampaknya bagi warga, pekerja, dan masyarakat penyangga.
Sejumlah media daerah turut mengonfirmasi pentingnya momentum ini. BorneoFlash.com dan Radar Bontang menyorot kerja sama OIKN-Unhas sebagai sinyal bahwa pembangunan IKN semakin menempatkan pendidikan tinggi sebagai tulang punggung ekosistem. Sementara kutaipanrita.id menempatkan kerja sama strategis itu sebagai dorongan bagi SDM dan riset untuk Nusantara. Jika dibaca bersama, berbagai laporan tersebut menunjukkan satu benang merah: IKN sedang bergerak dari fase konstruksi menuju fase konsolidasi pengetahuan.
Bagi pembaca Kata IKN, kabar ini juga menguatkan narasi yang sudah sering muncul dalam liputan kami sebelumnya, termasuk IKN dan Unhas berbagi pembelajaran konsep kota inovatif, cerdas, dan berkelanjutan dan IKN dan Unhas Dorong Riset Talenta untuk Kota Nusantara. Di sisi lain, penguatan ekosistem kampus di Nusantara juga diperkaya oleh rencana hadirnya perguruan tinggi lain, seperti Gunadarma Siap Buka Kampus di IKN, Kuliah Perdana September 2026. Dengan makin banyak kampus terlibat, IKN berpeluang menjadi laboratorium kota inovatif yang benar-benar hidup, bukan sekadar proyek infrastruktur. Jika kolaborasi ini konsisten dijaga, maka Nusantara tidak hanya tumbuh sebagai pusat pemerintahan baru, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama untuk Indonesia yang lebih cerdas, hijau, dan inklusif.












