Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Trump Murka pada BRICS, Ancam Tambah Tarif 10 Persen Termasuk Indonesia

93
×

Trump Murka pada BRICS, Ancam Tambah Tarif 10 Persen Termasuk Indonesia

Sebarkan artikel ini

Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahananya terhadap kelompok BRICS melalui unggahan di media sosial miliknya, Truth Social, Minggu (6/7/2025).

Pernyataan itu muncul tak lama setelah forum BRICS mengeluarkan kecaman terhadap kebijakan tarif impor dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang digelar di Brasil.

Example 300x600

Trump menanggapi pernyataan tersebut dengan ancaman balasan. Ia menyatakan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen kepada seluruh negara anggota BRICS tanpa kecuali.

“Negara mana pun yang mendukung kebijakan anti-Amerika BRICS akan dikenai tarif tambahan 10 persen. Tidak ada pengecualian,” tulis Trump.

Jika benar diterapkan, kebijakan tersebut akan berdampak langsung terhadap Indonesia sebagai anggota baru BRICS. Sejak 1 Januari 2025, Indonesia resmi menjadi anggota penuh, bergabung bersama China, Rusia, India, Brasil, Iran, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Kemarahan Trump dipicu oleh pernyataan bersama BRICS yang mengecam langkah proteksionis berupa tarif sepihak yang dinilai berisiko mengganggu stabilitas perdagangan dan pertumbuhan global. Meskipun tidak menyebut Amerika Serikat secara eksplisit, kecaman itu jelas ditujukan pada Washington.

Dalam pernyataan yang dirilis dan dikutip AFP, para pemimpin BRICS menyampaikan “keprihatinan serius terhadap praktik-praktik tarif unilateral dan tindakan non-tarif” yang mereka nilai sewenang-wenang dan melanggar hukum internasional.

Trump sendiri sejak April lalu telah mengancam akan memberlakukan tarif tinggi untuk berbagai negara mitra dagang, meski sempat menunda kebijakan tersebut karena tekanan dari dalam negeri. Kini, ia kembali menegaskan bahwa tarif sepihak akan diberlakukan jika tidak tercapai kesepakatan hingga 1 Agustus 2025.

Langkah Trump ini menambah ketegangan geopolitik dan bisa berdampak signifikan terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang baru mulai menata posisinya dalam kerja sama ekonomi Global South melalui BRICS.