Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Teror Kepala Babi ke Jurnalis Tempo, PCO: Dimasak Saja!

85
×

Teror Kepala Babi ke Jurnalis Tempo, PCO: Dimasak Saja!

Sebarkan artikel ini

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi, memberikan tanggapan terkait kasus pengiriman kepala babi kepada jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana, yang akrab disapa Cica. Dalam pernyataannya, Hasan menilai bahwa tindakan tersebut bukan ancaman serius dan memberikan respons yang terkesan santai.

“Udah dimasak aja,” ujar Hasan saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (21/3/2025).

Example 300x600

Ketika awak media mengonfirmasi kembali maksud dari pernyataannya, Hasan tetap bersikukuh dengan ucapannya. Padahal, diketahui bahwa kepala babi tersebut sudah dalam kondisi tidak layak dikonsumsi. “Udah dimasak aja,” tegasnya lagi.

Hasan juga menyebut bahwa kasus tersebut bukan merupakan ancaman bagi Cica. Menurutnya, respons Cica di media sosial yang terlihat santai menanggapi kejadian tersebut menunjukkan bahwa Cica tidak merasa terancam.

“Saya lihat dari media sosialnya Francisca yang wartawan Tempo itu, dia justru minta dikirimin daging babi,” jelas Hasan.

Diketahui bahwa paket berisi kepala babi tersebut diterima oleh satuan pengamanan Tempo pada Rabu, 19 Maret 2025, sekitar pukul 16.15 WIB. Paket yang dibungkus dalam kotak kardus berlapis styrofoam itu kemudian dibuka oleh jurnalis Tempo pada Kamis, 20 Maret 2025, pukul 15.00 WIB. Ketika dibuka, paket tersebut berisi kepala babi dengan kedua telinganya yang telah terpotong.

Tidak terdapat identitas pengirim dalam paket tersebut, namun jelas ditujukan kepada Francisca Christy Rosana. Peristiwa ini diduga terkait dengan kritik-kritik tajam yang sering disampaikan Cica melalui siniar Bocor Alus Politik Tempo, yang kerap menyoroti berbagai isu nasional, termasuk pemerintahan, banjir di Jakarta, serta politik.

Pihak Tempo telah melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib dengan menyertakan bukti rekaman CCTV untuk mengungkap identitas pelaku. Hingga kini, penyelidikan masih terus berlangsung untuk mencari siapa yang berada di balik aksi teror tersebut.

Sementara itu, dukungan kepada Cica terus berdatangan dari berbagai pihak yang menganggap tindakan tersebut sebagai upaya untuk mengintimidasi kebebasan pers. Beberapa aktivis media juga mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini.

“Ini bukan hanya soal ancaman terhadap individu, tapi juga terhadap kebebasan berekspresi yang harus dilindungi oleh negara,” ujar salah satu aktivis dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI).

Perkembangan lebih lanjut dari kasus ini akan terus dipantau oleh berbagai pihak. Masyarakat pun berharap agar penyelidikan dapat segera menemukan pelaku dan motif di balik aksi teror tersebut.