Example 325x300
Example floating
Example floating
Musik & Culture

Macron Akan Kunjungi Borobudur, Ini Sejarah Candi Tersebut

105
×

Macron Akan Kunjungi Borobudur, Ini Sejarah Candi Tersebut

Sebarkan artikel ini

Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan mengunjungi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, pada Rabu (28/5), didampingi Presiden Prabowo Subianto. Kunjungan ini menjadi bagian dari agenda singkat Macron selama dua hari di Indonesia.

Pemerintah setempat telah melakukan sejumlah pembenahan sarana dan prasarana demi menyambut kedatangan tamu negara tersebut di salah satu situs warisan dunia UNESCO. Bagi Macron, kunjungan ke Borobudur merupakan kesempatan untuk menyaksikan langsung salah satu mahakarya arsitektur Buddha terbesar di dunia.

Example 300x600

Kemegahan Candi Borobudur yang kini menjadi ikon Indonesia tak lepas dari upaya pelestarian yang dimulai lebih dari dua abad lalu. Dibangun antara abad ke-8 dan ke-9 oleh Dinasti Syailendra, candi ini sempat terlupakan dan tertimbun alam akibat letusan gunung berapi dan gempa bumi. Bertahun-tahun lamanya, candi hanya menjadi gundukan tak berarti di tengah rerimbunan semak belukar.

Barulah pada awal abad ke-19, keberadaan Borobudur kembali mencuat. Informasi awal datang dari Tan Jin Sing, seorang keturunan Tionghoa yang menjabat sebagai Bupati Yogyakarta.

Ia menyampaikan kepada Letnan Gubernur Inggris di Jawa, Thomas Stamford Raffles, bahwa mandornya di Desa Bumisegoro melihat struktur bangunan kuno yang besar.

Raffles, yang dikenal memiliki minat pada sejarah dan arkeologi, segera mengutus tim untuk menelusuri informasi tersebut. Bersama Tan Jin Sing dan arkeolog Belanda Christian Cornelius, mereka menyusuri lokasi dan memulai penggalian. Setelah dua minggu, struktur utama Borobudur mulai terlihat, membuka jalan bagi pemugaran yang lebih sistematis.

Meski bukan penemu pertama secara literal, peran Raffles, Tan, dan Cornelius sangat krusial dalam mengembalikan perhatian dunia terhadap Borobudur. Setelah Inggris meninggalkan Jawa, upaya pelestarian dilanjutkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan berlanjut hingga kini.

Kini, situs bersejarah tersebut siap menyambut pemimpin dunia, menegaskan posisinya sebagai simbol kebesaran warisan budaya Indonesia.