Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Ketua PBNU Klarifikasi Polemik Tambang Nikel Raja Ampat: “Jangan Sebarkan Narasi Menyesatkan”

68
×

Ketua PBNU Klarifikasi Polemik Tambang Nikel Raja Ampat: “Jangan Sebarkan Narasi Menyesatkan”

Sebarkan artikel ini

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi, angkat suara terkait polemik tambang nikel di Pulau Gag, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Fahrur, yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Komisaris PT GAG Nikel, menegaskan bahwa aktivitas pertambangan tidak berada di kawasan wisata ikonik seperti Piaynemo.

Example 300x600

“Pulau Gag adalah wilayah dengan izin resmi pertambangan. Bukan destinasi wisata,” ujar Fahrur dalam pernyataan tertulis, Senin (9/6/2025). Ia menjelaskan, izin eksplorasi di Pulau Gag telah diberikan sejak 1998, dan menjadi Izin Usaha Pertambangan (IUP) pada 2017.

Menurut Fahrur, munculnya foto-foto hasil editan berbasis AI yang menggabungkan keindahan Piaynemo dengan gambar tambang telah menyesatkan publik. “Itu menciptakan kesan keliru seolah-olah tambang berada di tengah kawasan wisata,” katanya.

Secara ilmiah, lanjutnya, Piaynemo merupakan kawasan karst berbatu gamping yang tidak mengandung nikel, berbeda dengan Pulau Gag yang terdiri dari batuan ultrabasa, tempat nikel umumnya ditemukan. “Secara geologi, mustahil Piaynemo bisa ditambang,” tegasnya.

Fahrur juga menyoroti bahaya penyebaran informasi keliru yang bisa dimanfaatkan untuk agenda lain, termasuk isu separatisme. “Ini bukan soal pro atau kontra tambang, tapi soal tanggung jawab menyampaikan informasi yang benar,” ucap pengasuh Ponpes An Nur 1, Malang itu.

Ia menegaskan, PT GAG Nikel beroperasi sesuai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan rutin diaudit oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan instansi terkait. “Selama ini tidak ada aturan yang dilanggar,” katanya.

Fahrur mengajak masyarakat untuk menanti hasil pemeriksaan resmi pemerintah sebelum menarik kesimpulan. “Lindungi Raja Ampat dengan menyebarkan fakta, bukan narasi menyesatkan,” ujarnya.