JAKARTA – Indonesia kini menjadi sorotan sebagai salah satu lokasi uji klinis fase 3 vaksin tuberkulosis (TBC) M72/AS01E yang didukung oleh Bill & Melinda Gates Foundation. Langkah ini menuai pro dan kontra di masyarakat, dengan sebagian pihak menyuarakan kekhawatiran bahwa Indonesia dijadikan “kelinci percobaan”.
Menanggapi hal tersebut, epidemiolog Dicky Budiman menekankan bahwa pengembangan vaksin TBC ini sangat penting mengingat TBC masih menjadi penyakit menular paling mematikan di dunia, dengan sekitar 10 juta kasus dan 1,5 juta kematian setiap tahunnya. Vaksin BCG yang telah digunakan selama lebih dari satu abad memiliki efektivitas yang bervariasi, terutama pada orang dewasa.
“Yayasan Bill dan Melinda Gates mendanai penelitian vaksin TBC terbaru karena kebutuhan medisnya sangat mendesak,” ujar Dicky .
Guru Besar Ilmu Pulmonologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, yang terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan bahwa uji klinis fase 3 merupakan tahap akhir dari serangkaian pengujian yang ketat untuk memastikan keamanan dan efektivitas vaksin. Sebelumnya, vaksin ini telah melalui uji klinis fase 1 dan 2, dengan hasil fase 2 menunjukkan efikasi sekitar 50% dalam mencegah perkembangan TBC aktif pada individu dengan infeksi laten.
“Uji klinis ini bukan uji coba seperti kelinci percobaan. Seluruh prosesnya dilakukan secara ilmiah dengan kegiatan saintifik,” tegas Erlina.
Uji klinis di Indonesia melibatkan sekitar 2.000 partisipan dari total 20.000 secara global, dan telah berjalan sejak September 2024. Penelitian ini melibatkan berbagai institusi, termasuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan RS Persahabatan .
Dicky Budiman juga mengingatkan pentingnya komunikasi yang transparan kepada publik untuk menghindari kesalahpahaman. “Tanpa strategi komunikasi yang baik, uji coba ini bisa menjadi bumerang, memicu hoaks, menimbulkan ketakutan sosial, dan memperburuk kepercayaan terhadap vaksin secara umum,” ujarnya .
Dengan keterlibatan Indonesia dalam uji klinis ini, diharapkan negara dapat memperoleh akses lebih cepat ke vaksin yang lebih efektif, meningkatkan kapasitas riset, dan memperkuat infrastruktur kesehatan dalam upaya mengendalikan TBC.




























