Warga RT 16, Jalan Padat Karya, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari limbah cair di sekitar lingkungan mereka. Aroma tidak sedap tersebut dinilai sangat mengganggu kenyamanan warga dan membuat aktivitas sehari-hari menjadi kurang kondusif.
Keluhan ini telah berlangsung cukup lama, namun belum ada solusi yang benar-benar efektif untuk mengatasinya. Beberapa warga bahkan menyebut bahwa bau tersebut semakin parah saat hujan turun, karena aliran air menjadi tersendat.
Menanggapi keluhan ini, Kepala Lapas Narkotika Kelas II A Samarinda, Theo Adrianus Purba, mengakui adanya masalah tersebut. Menurut Theo, sumber bau tidak hanya berasal dari lapas, tetapi juga dari limbah yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar.
Ia menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama adalah kondisi drainase yang buruk dan tersumbat, sehingga aliran limbah cair tidak berjalan dengan baik. “Limbah ini bukan hanya dari lapas, tetapi juga dari warga. Drainase yang tersumbat menyebabkan aliran air tidak lancar. Kami berharap Wali Kota dapat membangun sistem drainase yang lebih baik agar masalah ini dapat teratasi,” ujarnya.
Theo menegaskan bahwa pihak lapas siap terlibat dalam upaya pembersihan lingkungan. Menurutnya, gotong royong antara warga, pemerintah, dan pihak lapas adalah langkah yang sangat diperlukan untuk mengurangi permasalahan ini.
“Kami sangat siap jika ada inisiatif gotong royong untuk membersihkan lingkungan ini bersama-sama,” tambahnya. Ia berharap kolaborasi ini dapat menjadi solusi awal sambil menunggu langkah konkret dari pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur drainase di wilayah tersebut.
Di samping masalah limbah, Theo juga memaparkan tantangan besar yang dihadapi oleh Lapas Narkotika Kelas II A Samarinda, yaitu kelebihan kapasitas penghuni. Lapas yang seharusnya hanya menampung 450 orang kini dihuni oleh 950 orang, hampir dua kali lipat dari kapasitas ideal.
“Over kapasitas hingga hampir 100 persen ini menjadi tantangan besar bagi kami,” ungkapnya. Kondisi ini berdampak pada berbagai aspek, termasuk fasilitas dasar seperti ruang tidur, sanitasi, dan akses air bersih.
Masalah air bersih menjadi salah satu tantangan yang semakin terasa di tengah over kapasitas tersebut. Theo menjelaskan bahwa beberapa sumur bor yang ada di lapas mengalami kerusakan, sehingga pihaknya terpaksa memanfaatkan air dari danau bekas tambang di belakang lapas, terutama saat musim hujan. Namun, air tersebut tidak selalu mencukupi kebutuhan seluruh penghuni.
“Air bersih yang awalnya diperuntukkan untuk 450 orang kini harus dibagi untuk 950 orang. Kondisi ini sangat menyulitkan,” jelasnya. Theo berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah dan pihak terkait untuk membantu mengatasi persoalan-persoalan mendesak yang dihadapi oleh lapas, demi menjaga kualitas hidup para penghuni dan masyarakat di sekitarnya.




























