Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana perundingan tingkat tinggi dengan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu mendatang, menyangkut program nuklir Teheran yang telah lama menjadi sumber ketegangan antara kedua negara. Trump memperingatkan bahwa jika pembicaraan tersebut gagal, Iran akan menghadapi bahaya besar.
Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Senin (7/4/2025), Trump menyatakan bahwa Amerika lebih memilih jalur diplomasi dibandingkan konflik bersenjata.
“Kami akan mengadakan pertemuan penting dengan Iran pada hari Sabtu. Semua pihak sepakat bahwa mencapai kesepakatan lebih baik daripada melakukan sesuatu yang ekstrem,” ujar Trump, dikutip dari RT, Selasa (8/4/2025).
Trump sebelumnya mengungkap telah mengirim surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berisi tawaran untuk membuka kembali negosiasi mengenai perjanjian nuklir. Ia juga mengeluarkan ancaman akan menyerang Iran secara besar-besaran jika tawaran tersebut ditolak.
Iran sendiri telah mengonfirmasi bahwa perundingan tidak langsung akan digelar di Oman, dengan menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi membantah adanya kontak langsung antara kedua negara.
“Iran dan AS akan melakukan perundingan tidak langsung di Oman. Ini adalah kesempatan dan ujian. Bola kini ada di tangan Amerika,” tulis Araqchi dalam pernyataannya di media sosial X.
Meski demikian, Trump tetap bersikeras bahwa pembicaraan akan berlangsung secara langsung. Ia menegaskan kembali bahwa jika perundingan gagal, konsekuensinya bisa sangat serius bagi Iran.
“Jika pembicaraan tidak berhasil, saya pikir itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran. Mereka tidak bisa memiliki senjata nuklir, titik,” tegasnya.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak Trump menarik diri secara sepihak dari kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) pada masa jabatan pertamanya, dan memberlakukan kembali sanksi keras terhadap Teheran. Sebagai respons, Iran mulai mengurangi kepatuhannya terhadap perjanjian tersebut, meskipun tetap bersikeras bahwa program nuklir mereka bersifat damai.
Dalam suratnya kepada Dewan Keamanan PBB pekan lalu, Duta Besar Iran Amir Saeid Iravani mengecam retorika Trump yang dianggap “sembrono dan agresif”, serta menyebut kebijakan AS sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan komitmen negaranya terhadap dialog. “Kami percaya pada negosiasi, namun bukan dalam kondisi penuh tekanan dan ancaman,” ujar Pezeshkian, Senin (7/4/2025).
Dengan perundingan yang tinggal menghitung hari, dunia menantikan apakah kedua pihak dapat menemukan jalan keluar dari kebuntuan panjang yang selama ini membayangi kawasan Timur Tengah.




























