Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Uji Klinis Vaksin TBC Gates Foundation Dipantau WHO dan Kemenkes, Pemerintah Tegaskan Keamanan

89
×

Uji Klinis Vaksin TBC Gates Foundation Dipantau WHO dan Kemenkes, Pemerintah Tegaskan Keamanan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA– Kepala Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO), Hasan Nasbi, menegaskan bahwa uji klinis vaksin Tuberkulosis (TBC) yang saat ini sedang berlangsung di Indonesia mendapat pengawasan ketat dari berbagai lembaga nasional maupun internasional.

Vaksin tersebut merupakan hasil pengembangan Gates Foundation, lembaga milik filantropis dunia Bill Gates, dan kini memasuki uji klinis tahap ketiga.

Example 300x600

“Uji klinis ini dipantau langsung oleh WHO, Kementerian Kesehatan, rumah sakit, dan sejumlah universitas. Jadi, ini tidak dilakukan sembarangan,” kata Hasan dalam pernyataannya kepada media, Sabtu (10/5/2025), di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Ia menekankan bahwa uji klinis yang dilakukan saat ini berbeda dari “uji coba” dalam arti awam. Menurutnya, vaksin tersebut telah melewati seluruh tahapan pengujian sebelumnya — mulai dari praklinis, tahap 1, hingga tahap 2 — yang memastikan keamanannya sebelum masuk ke tahap final.

“Vaksin ini sudah dijamin aman. Sekarang yang diuji adalah seberapa efektif vaksin ini menyembuhkan pasien TBC,” ujarnya.

Hasan juga menjelaskan bahwa uji klinis ini dilakukan secara terarah kepada partisipan, yakni pasien TBC yang memenuhi kriteria, bukan masyarakat umum. Ia menampik tudingan liar bahwa uji klinis ini merupakan percobaan pada warga biasa.

“Yang diuji adalah partisipan dengan kondisi tertentu, untuk melihat apakah mereka sembuh setelah menerima vaksin ini. Jadi, bukan sembarang orang disuntik vaksin ini,” tegasnya.

Lebih jauh, Hasan menyebutkan bahwa keterlibatan Indonesia dalam uji klinis ini justru membuka peluang besar bagi bangsa ini untuk mandiri dalam produksi vaksin TBC. Jika vaksin ini terbukti berhasil, Indonesia akan menjadi salah satu negara pertama yang mendapat lisensi produksi.

“Pemerintah berpartisipasi agar kelak, ketika vaksin ini terbukti efektif dan disetujui secara global, kita dapat prioritas untuk memproduksinya sendiri. Target kita, Indonesia bebas TBC pada 2030,” ucapnya.

Uji klinis vaksin TBC ini juga tidak hanya dilakukan di Indonesia, melainkan secara internasional di beberapa negara. Indonesia dipilih karena menjadi salah satu negara dengan angka kematian akibat TBC tertinggi di dunia, yakni sekitar 100.000 hingga 125.000 kasus per tahun.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya juga angkat bicara mengenai uji klinis ini. Dalam kunjungan kerja di Semarang (9/5/2025), ia meminta masyarakat tidak termakan narasi konspirasi yang menyebut vaksin ini berbahaya atau menjadi ajang eksperimen.

“Vaksin ini gratis. Kita juga libatkan peneliti-peneliti Indonesia dalam prosesnya. Ini bukan proyek asing semata,” tegas Menkes.

Ia juga mengingatkan kembali pentingnya vaksinasi sebagai salah satu solusi ilmiah terbukti dalam mengurangi angka kematian akibat penyakit menular.

“Cacar dulu menewaskan banyak orang. Lenyapnya karena apa? Vaksin. Jadi, kalau ada yang bilang ‘jangan divaksin’, saya bilang itu jahat,” kata Budi.

Menkes menjelaskan bahwa tahap ketiga dari uji klinis ini bertujuan mengevaluasi efektivitas vaksin dalam populasi besar dan memastikan kecocokannya dengan kondisi genetik dan kesehatan masyarakat Indonesia. Ia menyebut bahwa vaksin tidak akan lolos ke tahap ini jika sebelumnya belum terbukti aman secara ilmiah.

Pemerintah berharap, dengan selesainya uji klinis ini, vaksin TBC baru bisa segera didistribusikan secara luas dan menjadi langkah penting dalam menurunkan beban TBC nasional. Keterlibatan aktif Indonesia juga diharapkan mampu memperkuat posisi negara ini dalam inovasi kesehatan global.