Example 325x300
Example floating
Example floating
Food & Drink

Nasi Bekepor: Jejak Rasa Kerajaan Kutai yang Menolak Dilupakan

173
×

Nasi Bekepor: Jejak Rasa Kerajaan Kutai yang Menolak Dilupakan

Sebarkan artikel ini

Di tengah riuhnya tren makanan modern dan invasi kuliner luar, satu cita rasa klasik dari tanah Borneo masih teguh berdiri. Nasi Bekepor — kuliner khas Kesultanan Kutai Kartanegara — bukan sekadar hidangan, melainkan simbol kejayaan, budaya, dan identitas masyarakat Kalimantan Timur.

Warisan dari Dapur Kerajaan

Nasi Bekepor berasal dari tradisi istana Kerajaan Kutai yang berabad-abad lamanya menjadi pusat kebudayaan di pesisir timur Kalimantan. Dulu, hidangan ini hanya terhidang di meja para bangsawan dan saat upacara adat. Kini, ia menjadi jendela ke masa silam — disajikan kembali di rumah-rumah makan, dan perlahan kembali ke kesadaran publik.

Example 300x600

“Nasi Bekepor itu bukan sekadar makanan, tapi cerita panjang tentang peradaban kita,” ujar Dewi Rahmawati, budayawan asal Tenggarong yang aktif mendokumentasikan tradisi kuliner Kutai.

Dalam bahasa Kutai, bekepor berarti “diputar” atau “digeser.” Mengacu pada teknik memasaknya yang unik — beras dimasak bersama potongan ikan asin gabus, daun kemangi, cabai, dan minyak goreng di dalam kuali besar, sambil sesekali diaduk dan diputar agar merata.

Cita Rasa dari Hutan dan Sungai

Sekilas, hidangan ini mirip dengan nasi liwet dari Jawa. Tapi Nasi Bekepor menawarkan dimensi rasa yang lebih ‘liar’ — harum kemangi berpadu dengan gurihnya ikan sungai yang diasinkan dan disuwir.

Biasanya disajikan bersama sambal raja, yang segar dengan aroma jeruk dan irisan cabai rawit, tomat, hingga terung pipit. Pelengkap lainnya termasuk gangan asam kepala ikan, sayur terung ungu, dan kadang daging bumbu manis kecap.

“Sambal raja itu bikin beda. Pedasnya nendang, tapi aromanya anggun,” kata Toni, warga Loa Janan.

Menghidupkan yang Hampir Padam

Sayangnya, seperti banyak warisan kuliner daerah, Nasi Bekepor pernah nyaris hilang dari peredaran. Kurangnya regenerasi pengetahuan memasak dan dominasi makanan modern membuatnya terpinggirkan.

“Banyak anak muda sekarang yang nggak tahu cara masaknya. Untung sekarang mulai diangkat lagi lewat festival dan media,” ucap Nurlela, pengrajin makanan khas Kutai dari Tenggarong Seberang.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sendiri mulai aktif melestarikan kuliner ini sebagai bagian dari promosi wisata dan budaya, terutama seiring dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Lebih dari Sekadar Hidangan

Makan Nasi Bekepor bukan hanya soal mengisi perut. Ia adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah, terhadap tanah dan sungai yang memberi hidup. Dalam setiap sendok, ada cita rasa masa lalu yang mencoba berbicara kepada masa depan.

“Kalau kita lupakan Nasi Bekepor, sama saja kita menghapus halaman dari buku sejarah sendiri,” tegas Prof. Aminullah Nasution, sejarawan Universitas Mulawarman.

Nasi Bekepor bukan tren sesaat. Ia adalah kenangan yang dimasak perlahan, disajikan dengan hormat, dan diwariskan dengan rasa bangga.