Example 325x300
Example floating
Example floating
Dispar KukarKaltimKutai Kartanegara

Kukar Dorong Desa sebagai Sentra Wisata Berbasis Budaya dan Alam

72
×

Kukar Dorong Desa sebagai Sentra Wisata Berbasis Budaya dan Alam

Sebarkan artikel ini

Kutai Kartanegara – Dalam upaya memperkuat pariwisata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kini mendorong pengembangan identitas desa sebagai pusat kegiatan wisata.

Sebanyak sepuluh desa di wilayah ini tidak hanya dipandang sebagai area permukiman, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang menyimpan sejarah, budaya, serta keharmonisan manusia dengan alam.

Example 300x600

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kukar, Arianto, konsep wisata berbasis desa merupakan perwujudan nyata pembangunan yang mengedepankan pelestarian budaya lokal, pelibatan masyarakat, dan perlindungan lingkungan.

“Ini bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga menjadi laboratorium hidup untuk pembelajaran lintas generasi,” jelasnya pada Rabu, 9 April 2025.

Program ini mencakup desa-desa yang memiliki pendekatan tematik beragam, seperti sejarah, budaya, ekologi, hingga pertanian.

Misalnya, Desa Kedang Ipil di Kecamatan Kota Bangun menawarkan perpaduan keindahan alam dan tradisi budaya, menjadikannya tempat pelestarian nilai-nilai warisan leluhur.

Sementara itu, Desa Kersik di wilayah Marang Kayu memaksimalkan potensi garis pantai dan ekosistem mangrove sebagai magnet wisata, sembari mengedukasi pentingnya keseimbangan ekologi laut dan pesisir.

Untuk wisata darat, konsep agrowisata dikembangkan di Desa Batuah dan Sumber Sari, di mana pengunjung bisa belajar tentang pertanian, memetik hasil kebun, hingga memahami kontribusi sektor ini dalam budaya dan ekonomi lokal.

Potensi sejarah juga diangkat melalui desa seperti Sanga-Sanga Dalam yang menyimpan kisah perlawanan terhadap penjajah, serta Kota Lama, yang menyuguhkan situs-situs peninggalan kerajaan tertua di Nusantara.

Konsep ekowisata diterapkan di Desa Sangkulimam dan Muara Kaman Ulu, yang tak hanya menyuguhkan petualangan menyusuri Sungai Mahakam, tetapi juga sarana edukasi tentang pentingnya konservasi sungai dan sejarahnya.

Tak kalah menarik, Desa Pela menjadi simbol pelestarian lingkungan, dengan keberadaan Pesut Mahakam sebagai daya tarik yang menggabungkan pariwisata dan konservasi.

Arianto menegaskan bahwa keberhasilan destinasi wisata desa tidak ditentukan dari kemegahan fasilitas, melainkan dari hubungan erat antara warga lokal dengan wisatawan.

Festival budaya disebut sebagai salah satu cara efektif untuk memperkenalkan nilai-nilai lokal kepada dunia luar.

“Festival desa menjadi jendela untuk mengenalkan identitas lokal secara berkelanjutan. Wisata yang sukses adalah yang bisa menyentuh hati, memuliakan lingkungan, dan mengisahkan nilai-nilai budaya lokal,” tutupnya. (Adv/Dispar Kukar)