Example 325x300
Example floating
Example floating
Ekopol

Istri Edi Damansyah Berpotensi Jadi Pasangan Rendi di PSU Kukar

85
×

Istri Edi Damansyah Berpotensi Jadi Pasangan Rendi di PSU Kukar

Sebarkan artikel ini

Mahkamah Konstitusi (MK) resmi mendiskualifikasi Edi Damansyah sebagai Calon Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dalam Pilkada Serentak 2024. Keputusan ini membuat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kukar harus menggelar Pemungutan Suara Ulang (PSU) dalam dua bulan ke depan, tanpa keterlibatan Edi dalam kontestasi tersebut.

PSU tetap akan diikuti oleh tiga pasangan calon (paslon), dengan nomor urut 01 diisi oleh Rendi Solihin yang hingga kini belum memiliki pasangan. Sementara itu, paslon nomor urut 02 terdiri dari Awang Yacoub Luthman dan Akhmad Jaiz, serta paslon nomor urut 03 diisi oleh Dendi Suryadi dan Alif Turiadi.

Example 300x600

Situasi ini memunculkan tanda tanya besar di kalangan publik mengenai siapa yang akan mendampingi Rendi Solihin dalam PSU mendatang. Lembaga survei Search Borneo Indonesia (SBI) pun merilis riset terbarunya terkait peluang elektoral para kandidat.

Direktur SBI, Martain, mengungkapkan bahwa berdasarkan survei yang dilakukan pada 27-28 Februari 2025, elektabilitas Rendi tetap tinggi dalam PSU, siapa pun pasangannya. Namun, jika ia berduet dengan Maslinawati, istri Edi Damansyah, elektabilitas mereka melonjak hingga 65 persen.

“Jika pasangannya Maslinawati, elektabilitasnya mencapai 65 persen. Artinya, kans kemenangan mereka sangat besar,” ujar Martain, Senin (3/3/2025) malam.

Selain Maslinawati, beberapa tokoh lain juga disebut-sebut berpotensi mendampingi Rendi, termasuk Sunggono yang memperoleh dukungan 15 persen dan Abdul Rasid dengan 11,79 persen.

Minim Sosialisasi, Politik Uang Bisa Jadi Ancaman

Meski hasil survei menunjukkan dominasi Rendi, tantangan lain muncul, yakni minimnya pengetahuan masyarakat soal PSU. Data SBI menunjukkan hanya 33,21 persen responden yang memahami adanya PSU, sementara 56,79 persen belum mengetahui kapan tepatnya PSU akan digelar.

Selain itu, Martain menyoroti potensi perubahan dinamika politik, terutama jika terjadi praktik politik uang dalam skala besar.

“Jika proses berjalan normal, hasil ini tidak akan jauh berubah. Namun, jika ada politik uang dalam skala besar, tentu bisa berpengaruh signifikan,” pungkasnya.