Pemerintah terus memacu pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan teknologi masa depan Indonesia. Salah satu indikator penting dari perkembangan ini adalah lonjakan kebutuhan energi listrik di wilayah tersebut.
PT PLN (Persero) mencatat, kebutuhan listrik nasional diperkirakan meningkat drastis dari 306 TWh pada 2024 menjadi 511 TWh pada 2034. Dari jumlah itu, IKN diproyeksikan menyerap hingga 1 TWh. Angka ini menegaskan peran strategis IKN dalam ekosistem energi nasional.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa lonjakan kebutuhan ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mencapai 8 persen dalam dekade mendatang.
“Perhitungan ini kami susun berdasarkan lokasi, waktu, dan kapasitas, agar pasokan listrik bisa disiapkan lebih akurat,” ujarnya dalam acara diseminasi Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), Senin (2/6).
IKN dirancang sebagai kota pintar yang modern dan hijau, lengkap dengan pusat pemerintahan, perkantoran, permukiman, kawasan bisnis, hingga fasilitas teknologi tinggi seperti pusat data (data center).
Kehadiran pusat data ini—yang terintegrasi dengan teknologi Artificial Intelligence (AI)—menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya kebutuhan listrik karena membutuhkan computing power besar dan sistem pendinginan yang intensif.
Tak hanya itu, wilayah Kalimantan tempat IKN berada juga menjadi lokasi strategis untuk hilirisasi industri minerba (mineral dan batubara).
PLN memperkirakan kebutuhan listrik untuk hilirisasi di Kalimantan bisa mencapai 5,3 TWh. Meski tak seluruhnya berlokasi di IKN, keberadaan kawasan industri di sekitar ibu kota baru tentu akan berdampak langsung terhadap kebutuhan daya.
PLN kini menggunakan pendekatan per wilayah untuk memetakan kebutuhan listrik secara lebih presisi. Di Kalimantan, selain 1 TWh untuk IKN, ada tambahan permintaan dari penggunaan kendaraan listrik dan kompor induksi sebesar 0,2 TWh.
















