Example 325x300
Example floating
Example floating
Opini

Catur Keakraban

1377
×

Catur Keakraban

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ariyanto

Minggu sore itu suasana di Kalibata City terasa berbeda. Sejumlah meja berjajar rapi. Di atasnya hanya ada papan catur, bidak-bidak yang telah tersusun, dan sebuah timer. Tak ada ponsel, tak ada catatan, tak ada benda lain yang boleh menemani para peserta. Yang ada hanya konsentrasi, strategi, dan keberanian mengambil keputusan.

Example 300x600

Hari itu, Musdalifah Pangka, Ketua P3SRS (Perhimpunan Pemilik Penghuni Satuan Rumah Susun) Kalibata City, menggelar turnamen catur perdana sejak komunitas catur warga dibentuk. Antusiasme datang dari berbagai usia. Ada kategori anak-anak dan dewasa. Sebagian peserta tampak tenang menatap papan, sebagian lainnya sesekali melirik timer yang terus menghitung mundur waktu berpikir mereka.

Meski bersifat komunitas, pelaksanaannya tidak dibuat seadanya. Aturan pertandingan diterapkan cukup ketat, layaknya turnamen resmi. Setiap pemain dibatasi waktu menggunakan timer. Langkah yang sudah dijalankan tidak boleh dibatalkan. Bidak yang sudah disentuh harus dimainkan. Di atas meja hanya boleh ada papan catur dan perlengkapan pertandingan. Semua peserta dituntut menghormati aturan yang sama.

Namun sore itu, yang dipertaruhkan bukan semata kemenangan. Di antara bidak-bidak yang bergerak dari satu petak ke petak lain, terjalin pula percakapan, sapaan, dan tawa. Anak-anak bertemu teman baru. Orang tua yang sebelumnya hanya berpapasan di lift atau koridor mulai saling mengenal. Sebuah komunitas yang selama ini hidup dalam kesibukan masing-masing menemukan ruang untuk berjumpa.

Di lingkungan hunian vertikal yang dihuni ribuan orang, keakraban sering menjadi barang mewah. Orang tinggal berdampingan, tetapi tidak selalu saling mengenal. Karena itu, turnamen catur ini menjadi lebih dari sekadar kompetisi. Ia adalah ikhtiar sederhana untuk merawat kebersamaan, kehangatan, dan membangun rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal.

Musdalifah Pangka tampaknya memahami bahwa komunitas yang kuat tidak hanya dibangun oleh aturan dan pengelolaan yang baik. Ia juga tumbuh dari hubungan antarmanusia yang hangat. Dari kemampuan warga untuk saling menyapa, saling mengenal, dan merasa menjadi bagian dari keluarga besar yang sama.

Menjelang senja, ketika pertandingan demi pertandingan berakhir, yang tersisa bukan hanya daftar juara. Ada keakraban yang mulai tumbuh dan jalinan persahabatan yang mulai terbentuk. Di atas papan hitam-putih itu, warga Kalibata City belajar bahwa kebersamaan sering lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.

Barangkali inilah kemenangan sesungguhnya dari turnamen sore itu. Bukan sekadar skakmat, melainkan semakin akrabnya warga Kalibata City sebagai satu komunitas. (*)